Nasib Cyornis banyumas di Banyumas

Copy of sikatancacingPertemuan dengan burung Cyornis banyumas di sekitaran hulu sungai Banjaran, lereng Selatan gunung Slamet  pada bulan September ini terasa begitu istimewa.  Istimewa karena bisa jadi dia adalah keturunan langsung, atau cucu-cicit dari burung yang sama yang kemungkinan pernah dilihat oleh Dr. Thomas Horsfield (penemu Cyornis banyumas) di tempat yang sama pada bulan September tahun 1814 dulu.  September? Yah memang pada sekitaran September 1814 pak Horsfield ini sedang berada di situ, mengeksplorasi lereng Selatan gunung Slamet lewat daerah Kemutug terus menyusuri sampai ke hulu sungai Banjaran, dan lanjut naik hingga ke puncak gunung untuk mengumpulkan sampel geologi, botani, maupun zoologinya.  Dan justru di lereng Selatan gunung Slamet ini lah Horsfield mendapatkan banyak sekali tambahan spesimen untuk koleksi herbariumnya.  Ah syukurlah, saat ini masih bisa ditemukan Cyornis banyumas di tempat yang sama di hulu sungai Banjaran, walau mungkin dahulu Horsfield menemukan burung bersuara cukup merdu ini sangat melimpah di keseluruhan daerah Banyumas, bukan hanya di hutan lereng gunung Slamet saja.

Perlu untuk diketahui, Dr. Thomas Horsfield adalah seorang dokter dari Amerika, yang saat ini dikenal sebagai ahli Zoologi, Botani, Pharmakologi, dan Ethnologi.  Akan tetapi ternyata keahlian Geologinya cukup mumpuni, terbukti dengan pencapaian terbesarnya di bidang Geologi yaitu karyanya: Mineralogical Map of Java yang dibuatnya pada 1812.  Horsfield diutus oleh Sir Thomas Stamford Raffles untuk mengumpulkan spesimen dari seluruh Indonesia, termasuk Jawa, untuk dikirim menjadi koleksi British Museum (Natural History) di London.  Dan ternyata ia menghabiskan waktu 18 tahun, selama kurun 1801 – 1819 untuk menjelajahi seluruh bentang alam Jawa tanpa ada yang terlewat, termasuk naik ke seluruh puncak-puncak gunung yang ada di pulau Jawa.  Di propinsi Banyumas (literatur memang menyebut ‘Banyumas Province’ dalam surat Horsfield kepada Raffles, sekarang mungkin eks karesidenan Banyumas) dia blusukan kemana-mana dan terlihat cukup betah di Banyumas, yaitu selama 4 bulan dari Agustus sampai November 1814.  Antara lain ia berkunjung ke Petanahan(Patanaan), pantai Ayah(Ay A), ke Karang Bolong, menjelajah pantai Bunton(Bunton) di Cilacap(Tlachap), menyusuri sungai Datar(River Datar), meneliti karst Ajibarang(Adshibarang) di sekitar sungai Tajum(Tiaddshum), tentu melihat pula indahnya sungai Serayu hingga terus menyusur sungai Klawing(Kelawing) sampai Purbalingga(Probolingo), mutar muter di Sokaraja(Suko-rosho), naik menyusuri sungai Banjaran(Bandsharan) melewati Kemutug(Kumutuk) sampai ke hulunya, lalu naik ke puncak gunung Slamet(mountain of Tagal), dan tak lupa pula menyusuri sungai Logawa(Lo-gowak).

Ah, kembali ke perbincangan mengenai Cyornis banyumas tadi, atau disebut juga Sikatan Cacing, atau Tledhekan pring kata orang Jawa, adalah burung berukuran tidak terlalu besar, sekitar 15cm. Burung ini berwarna Biru tua di tubuh atas dan Jingga sampai putih di tubuh bawah pada jantan dan berwarna lebih pucat pada betinanya.  Cyornis banyumas termasuk burung berkicau sehingga karena perburuan, saat ini sudah sangat sulit dijumpai kecuali di hutan-hutan gunung Slamet.  Mengapa disebut Cyornis banyumas bukan Cyornis horsfieldi seperti spesies lain yang ditemukan oleh pak Horsfield?  Padahal selain di Banyumas, burung ini tersebar juga secara umum di Asia Tenggara. Entahlah, mungkin karena keindahan alam Banyumas pada jaman dulu hingga dia betah tinggal sampai 4 bulan, atau begitu melimpahnya burung ini dulu di Banyumas sehingga nama Banyumas harus disematkan sehingga akan diingat terus oleh ilmuwan dunia perburungan.  Nah oleh karena itu, saat ini sudah menjadi tugas kita seluruh masyarakat dan pemerintah Banyumas agar melestarikan serta menjadikan burung ini kembali melimpah di pedesaan, hutan dan taman kota di daerah Banyumas.  (Timur)

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *