MENYOAL PERBURUAN TANPA KENDALI

375919_4546355212714_1352727545_n

Lansekap Banyumas terbentang di tengah-tengah Pulau Jawa. Kombinasi empat tipe ekosistem yaitu hutan pegunungan, lembah Serayu, karst Ajibarang dan juga mangrove Segara Anakan membuat kawasan Banyumas kaya akan keragaman hayati. Menurut data Biodiversity Society, terdapat lebih dari 200 jenis burung yang hidup di Banyumas. Bahkan, setiap tahunnya, lansekap ini menjadi jalur migrasi burung dari belahan bumi utara, baik burung pantai maupun passerine.

Sayangnya, hobby memelihara burung telah membuat kekayaan yang tiada ternilai ini menjadi terancam. Ditambah lagi, situasi ekonomi yang semakin menyingkirkan masyarakat pinggir hutan yang mayoritas petani, membuat banyak yang beralih menjadi penangkap burung.

Pada tahun 1998, di saat geliat konservasi spesies mulai muncul di Purwokerto, sangat mudah menemukan burung cucak hijau, anis kembang, bahkan julang dan rangkong di kawasan hutan gunung Slamet. Saat itu, perburuan burung kicauan juga sudah ada, namun hanya terbatas pada burung-burung mahal seperti yang disebutkan di atas. Pun, kebanyakan para pemburu burung masih memiliki kearifan seperti tidak mengambil burung yang kurang laku, melepaskan kembali burung yang sedang dalam masa angkrem ataupun loloh (memelihara anakan). Pada umumnya perburuan di dasawarsa 90-an masih didominasi alasan mencukupi kebutuhan yang kurang dapat dipenuhi pertanian oleh lahan yang sempit.

Perubahan yang sangat nyata terjadi di awal abad 21 dengan ditandai mulai terkikisnya kearifan lokal masyarakat pinggir hutan. Keinginan untuk dapat hidup seperti masyarakat perkotaan tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan membuat hutan menjadi alternatif utama. Dengan hanya bermodalkan jaring, banyak sekali pemuda lulusan SD ikut berburu.  Semua burung yang tertangkap jaring diambil tanpa peduli apakah burung tersebut nilai jualnya bagus atau tidak, dan juga apakah burung tersebut sedang merawat anakan atau tidak. Mudahnya komunikasi, dengan ditandai semakin banyaknya warga pinggir hutan yang memiliki handphone juga semakin mempermudah jalur perdagangan burung dan satwaliar lainnya.

Jaringan yang terlibat dalam perdagangan satwaliar di Banyumas tidak hanya jaringan lokal saja, namun juga jaringan nasional dan internasional. Satwaliar yang diperjualbelikanpun tidak hanya terbatas satwa yang tidak dilindungi, namun juga satwa yang masuk kategori dilindungi UU Nomor 5 tahun 1990. Contoh nyata perburuan dan perdagangan satwaliar dilindungi yang melibatkan jaringan internasional adalah perburuan trenggiling. Harga yang menggiurkan bagi masyarakat desa, membuat orang beramai-ramai berburu trenggiling.

Model perburuan terbaru yang sedang marak dan mengancam kelestarian keragaman hayati Banyumas adalah hobby senapan angin. Motif perburuan ini bukan lagi karena desakan ekonomi, tapi lebih karena hobby. Hobby, tentu saja dasarnya adalah kesukaan dan kesenangan. Sayangnya, kesukaan dan kesenangan itu lebih berdampak merusak daripada melestarikan kawasan.

Merebaknya hobby senapan angin ini tak lepas dari tidak adanya aturan yang mengatur tentang kepemilikan senapan angin. Bahkan, dari hasil investigasi yang dilakukan Biodiversity Society, terdata beberapa pengrajin senapan angin skala besar di Purwokerto. Bahkan, klub menembakpun sudah mulai bermunculan tanpa ada upaya berarti dari Pemerintah untuk mengendalikan hobby yang merusak ini.

Pertanyaannya adalah, apakah hal ini akan dibiarkan terjadi hingga tidak ada satupun satwaliar yang hidup di Banyumas?

Banyak yang bersikap minor terhadap upaya konservasi spesies. Bahkan tak sedikit yang menuduh bahwa upaya konservasi spesies lebih memikirkan nasib monyet daripada nasib masyarakat miskin. Atau lebih jauh lagi, aktifitas seperti ini hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek saja, bukan subyek pelaku. Akan tetapi, komentar-komentar seperti itu justru bermula dari ketidakfahaman akan kondisi yang ada.

Dalam rantai perdagangan ilegal satwaliar, pemburu yang rata-rata masyarakat miskin, merupakan subyek pelaku yang mendapat keuntungan paling kecil. Seringkali, uang yang didapat tersebut tidak sebanding dengan upaya dan resiko yang dikeluarkan. Contohnya dalam kasus perburuan trenggiling, rata-rata pemburu mendapatkan uang antara Rp. 300.000 – Rp. 400.000 untuk berat 5-7 Kg. Kadang jika mendapatkan trenggiling berukuran besar, mereka bisa mendapat antara 750ribu hingga 1,5 juta rupiah. Memang jumlah yang cukup besar jika dibanding dengan hasil yang didapat jika bekerja di sawah atau di kebun.

Sayangnya, mereka tidak pernah tahu bahwa harga satu Kg sisik trenggiling di pasar internasional adalah USD400!! Harga jual daging trenggiling perkilogram-nya adalah USD 112!! Penikmat bisnis ini bukanlah masyarakat pinggir hutan yang miskin. Penikmatnya tetaplah kartel perdagangan ilegal, dan semakin tinggi posisi dalam jaringan semakin besar pula porsi keuntungan yang didapatkan.

Perburuan yang berlatarbelakang ekonomi saja masih kurang tepat dalam perspektif kelestarian sumber daya alam dan peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan, apalagi perburuan yang motifnya hanya kesenangan semata. Tentu saja hal ini seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Penyelesaian persoalan inipun seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

STOP STIGMA BOLEH BERBURU ATAS NAMA KEMISKINAN

Praktek perburuan semakin menguat karena stigma mereka berburu untuk sekedar mencukupi kebutuhan. Akan tetapi, itu bukanlah satu-satunya paradgima yang benar dalam konteks perekonomian berkelanjutan.

Masyarakat memilih berburu lebih didorong karena faktor fast cash. Mereka memasang jaring atau memasang jerat, mendapat buruan, lalu menjual ke pengepul dengan harga rendah dan dapat uang. Nilai satwaliar menjadi sangat rendah di mata masyarakat miskin. Kemudian, untuk meningkatkan nilai hingga mampu mencukupi kebutuhan, masyarakat kemudian meningkatkan volume perburuan. Semakin banyak satwaliar tertangkap, semakin banyak yang dijual, semakin banyak hasil yang didapatkan. Fenomena inilah yang membuat kekayaan hayati kita punah dalam tempo yang singkat.

Sekarang masyarakat pinggir hutan sudah berburu burung yang bahkan 5 tahun yang lalu tidak laku dijual sama sekali. Burung kacamata contohnya. Nampaknya, para kartel bisnis ilegal ini sengaja menciptakan trend agar para peng-hobby burung kicauan terus menerus membeli burung. Juga para peng-hobby memelihara satwaliar lainnya seperti kukang, reptil dan lainnya. Trend ini tidak akan pernah berhenti hingga tidak ada lagi satwaliar yang bisa ditangkap di alam.

Tentu saja, para pemburu yang notabene masyarakat kecil itu akan tetap berada pada level terbawah jaringan dan tetap akan miskin seumur hidup mereka. Sedangkan, pada pengepul dan pedagang besar akan semakin kaya.

Pertanyaan keduanya adalah : sebenarnya siapa yang untung dari perburuan tak terkendali ini?

MANFAAT JANGKA PANJANG LEBIH BESAR DARI PADA FAST CASH

Dari sudut pandang yang lain, sebenarnya ada peluang bagi masyarakat pinggir hutan untuk tetap dapat hidup layak dari keberadaan satwaliar di hutan. Di atas sudah disinggung tentang prosentasi keuntungan yang didapat pemburu dalam jaringan perburuan dan perdagangan satwaliar, dari hasil menjual langsung satwaliar yang ditangkap.

Sebagai contoh, manfaat satu ekor elang jawa jika dijual langsung berkisar antara Rp. 150.000 – Rp.200.000. Namun, jika masyarakat didorong untuk lebih memilih manfaat tidak langsung hasilnya akan jauh lebih besar. Salah satu inisiasi yang mulai banyak digagas adalah adopsi sarang elang jawa. Konsepnya sangat mudah dengan melibatkan masyarakat mendata sarang-sarang elang jawa yang aktif digunakan. Masing-masing sarang didokumentasikan dengan baik dan ditawarkan kepada masyarakat perkotaan untuk diadopsi. Masyarakat dapat menjaga sarang tersebut sampai memastikan telur menetas, hingga menjadi individu dewasa dan mampu hidup mandiri di habitat alamnya. Secara ekonomi, masyarakat desa akan menerima nominal uang yang jauh lebih besar dan di sisi lain lingkungan tetap terjaga lestari sedang di sisi lain masyarakat yang mengadopsi elang tersebut merasa bangga telah berkontribusi langsung terhadap pelestarian elang jawa di habitatnya.

Bentuk pemanfaatan tidak langsung lainnya banyak ragamnya, misalnya ekowisata, manfaat air, energi, tanaman obat, oksigen yang kita hirup setiap detiknya, suhu yang sejuk karena hutan terjaga beserta fungsi hidrologinya, dan masih banya berjuta manfaat lain. Namun, tentunya hal ini hanya bisa terwujud melalui pendidikan kepada masyarakat untuk mengenal diri dan lingkungannya. Tanpa adanya pendidikan, masyarakat tidak akan pernah beranjak dari permasalahan yang saat ini membelit, baik ekonomi maupun ancaman kerusakan alam.

Hanya ada satu pilihan bagi kita semua untuk dapat hidup layak, yaitu mengintervensi ekosistem melalui perlindungan dan pemanfaatan tidak langsung. Jika kita tidak mengambil inisiatif, dapat dipastikan dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, tidak ada lagi satwaliar yang hidup di Banyumas. Dalam kurun waktu itu juga, permasalahan kemiskinan masyarakat tepi hutan akan tetap tak terselesaikan bahkan akan semakin memburuk.

Biodiversity Society mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama melestarikan keragaman hayati di habitat aslinya. Kepedulian ini akan tidak hanya untuk memperjuangkan kelestarian satwaliar, namun juga pengentasan masyarakat pinggir hutan dari kemiskinan, peningkatan pendidikan dan juga akses pemanfaatan kawasan secara lestari dan berkelanjutan.

 

[Penulis: H.A. Wahyudi. Dimuat di RADAR BANYUMAS, 17 Desember 2013]

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>